Operasi Rahasia Donat Raksasa

Hari Sabtu adalah hari favorit Tono. Mengapa? Karena Ibu berjanji akan membuat donat cokelat raksasa! Sejak pagi, wangi adonan goreng sudah memenuhi seluruh rumah, membuat perut Tono bernyanyi dangdut.

“Tono, Ibu mau ke warung sebentar beli gula,” kata Ibu sambil memakai sandal. “Donatnya sudah Ibu taruh di atas meja makan. Ingat, jangan dimakan dulu sebelum Ibu datang, ya!”

“Siap, Kapten Ibu!” seru Tono sambil memberi hormat.

Begitu pintu depan tertutup, Tono langsung berlari ke dapur. Di atas meja, sebuah donat cokelat dengan taburan meses warna-warni melambai-lambai minta dimakan. Donat itu terlihat sangat kesepian.

Tono mendekat. Air liurnya hampir menetes. “Aku cuma mau mencium baunya saja,” pikir Tono.

Ia mendekatkan hidungnya ke donat. Terlalu dekat. Dan… NYAM! Tanpa sadar, mulut Tono langsung menggigit pinggiran donat tersebut.

Tono terkejut. Donat raksasa itu sekarang bolong di satu sisi, mirip seperti bulan sabit!

“Gawat! Operasi rahasia ini bisa ketahuan Ibu!” panik Tono.

Otak cerdik Tono mulai berputar. Ia harus menyembunyikan bukti gigitannya. Tono berlari ke kamarnya dan mengambil mainan lego paling kecil. Ia mencoba menambal lubang donat dengan balok lego. Gagal. Lego tidak bisa dimakan.

Lalu, ia melihat toples meses di lemari. “Ahha! Ide jenius!”

Tono mengambil segenggam penuh meses cokelat. Ia menjejalkan meses itu ke bagian donat yang bolong, lalu menekannya kuat-kuat sampai bentuknya kembali bulat. Dari jauh, donat itu terlihat sempurna lagi. Tono tersenyum bangga. Ia merasa seperti detektif hebat yang berhasil menyelesaikan misi mustahil.

Tak lama kemudian, Ibu pulang. Ibu langsung pergi ke dapur untuk membuat teh.

“Wah, Tono pintar sekali. Donatnya masih utuh,” puji Ibu sambil membawa dua piring kecil. “Ayo, kita makan sama-sama.”

Ibu memotong donat itu menjadi dua bagian. Dan… KREK! PYARRR!

Ratusan butir meses yang disumbat Tono langsung tumpah ruah ke atas meja seperti air terjun kecil. Potongan donat itu langsung kempes dan kembali berlubang.

Ibu menatap meses yang berserakan, lalu menatap Tono yang wajahnya sudah merah karena menahan tawa. Di sudut bibir Tono, masih ada sisa cokelat yang menempel.

“Tono… kenapa donatnya bisa melahirkan banyak meses?” tanya Ibu sambil menahan senyum.

Tono menyengir lebar sambil menunjukkan dua jarinya. “Hehe, maaf Ibu. Tadi donatnya bilang dia kedinginan, jadi Tono kasih selimut meses yang banyak!”

Ibu akhirnya tertawa terbahak-bahak dan mencubit hidung Tono. Akhirnya, mereka berdua makan donat “melahirkan” itu bersama-sama sambil kekenyangan.


Scroll to Top